Logo
images

Memperbaharui Model dan Strategi Bisnis Konvensional ala Lasting Lean Sun Tzu

"Sama seperti air, mengendalikan aliranya sesuai dengan karakteristik dataran, sebuah pasukan harus menciptakan kemenanganya sesuai situasi musuh. Jadi dalam pelaksanaan perang tidak ada situasi dan kondisi yang tetap, sama seperti air tidak memiliki bentuk dan konfigurasi yang terus menerus sama.  Lontarkan pertandingan kecil untuk mengetahui kekuatan lawan", Sun Tzu.

Kiblat referensi utama entrepreneurship, pemasaran, studi ekonomi dan manajemen ditingkat Sarjana maupun Magister sebagian besar masih menggunakan prinsip2 manajemen strategis era 80-90an terutama textbook management ala barat yang terbukti usang berkelimpungan melawan inovasi konsep Intellectual Property Jepang, Korea dan India. Mengedepankan strategi menghadapi pesaing "head to head", ketimbang menciptakan customer value: selisih antara manfaat yang diperoleh customer dari suatu produk atau jasa dengan upaya dan pengorbanan yang dilakukannya untuk mendapatkan dan menggunakan produk itu.

Era sudah sangat jauh bergeser dari industri, teknologi dan sekarang adalah masa era konseptual. Coba bayangkan ada berapa ribu alumni perguruan tinggi yang masih berpikir strategi konvensional  (kanvas strategi mereka masih berorientasi pada idealisme produk dan nilai intrinsik perusahaan), sekarang mereka menjadi tenaga pemasar maupun eksekutif industri. Mungkin inipula yang setidaknya menjadi salah satu faktor penyumbang kalah bersaingnya produk nasional yang sarat dengan estetik dan nilai budaya tinggi. Mengakibatkan ketidakseimbangan neraca perdagangan, perokonomian tumbuh stagnan, daya beli menurun, dan pada akhirnya pada bonus demografi menjelang 2030-2050 bangsa kita hanya akan menjadi pangsa pasar gemuk dibalik serbuan produk2 import.

Generasi muda bingung, linglung manakala mereka memutuskan untuk berwirausaha. Mau usaha dibidang apa, bagaimana memulainya; sungguh kewajaran "bola salju" akibat "saklek-nya" kurikulum pendidikan yang mereka dapatkan (baik ditingkat kejuruan, sarjana, magister sekalipun). Memang metode konvensional sangat menekankan pada idealisme produk dan visi bisnis, belum lagi ego lulusan universitas atau perguruan tinggi ternama yang setidaknya masih "melekat erat" pada pola pikir mereka.
Pada era industri keegoisan dan kegigihan akan suatu produk memang terbukti menjadi kunci sukses.
Keegoisan dan kegigihan inovasi Honda pula yang ditolak oleh Yamaha dengan desain "torak atau piston-nya", menjadi kunci sukses Soichiro Honda melawan sang pioner kala itu.

Era sudah jauh berubah, customer menjadi sangat pintar akibat informasi dan perdagangan bebas. Apakah kita tidak belajar bagaimana Coca Cola nyaris hancur akibat keegoisan New Coke melawan Pepsi? Kesuksesan Toyota dengan strategi Lean Manufacturing? Dan yang akan menjadi trending satu dasawarsa kedepan adalah Tesla dengan model X nya.

 

                             

Gambar: Persinggungan Compromised Value Antara Idealisme dan Kebutuhan Pasar

 

Produk atau jasa akan sukses jika mengutamakan Compromised value yang merupakan irisan atau persinggungan diantara Innovator Idealism dan Customer needs.Keserasian antar ketiga faktor ini tidak akan membiaskan ke-unix an visi sebuah bisnis dan tidak mengorbankan kepuasan pelanggan.

Para CEO dan manajer hendaknya tidak terjebak dengan metode konvensional paradok strategi yang disusun secara sistematis dalam jangka waktu 5 tahun, lagi2 hanya berkutat pada banyaknya Key Performa Indicator, Value Preposition (Indikator KPI yang sangat banyak sangat membingungkan eksekutif dan VP kebanyakan dibangun berdasar perspektif internal perusahaan dimana sesuatu yang kita yakini akan disuka pasar pada kenyataanya sama sekali tidak).

Bisnis sangat bersifat dinamis sebagaimana ungkapan Sun Tzu, sehingga produk atau jasa yang sukses selalu mengandung Varian Value: Harga terjangkau, Merk eksklusif, Desain unik dan Estetis, Produk yang dupromosikan dengan ceria, Produk yang memberi solusi, Produk yang menghibur, Kemudahan akses, Layanan prima.

Studi kasus: terhuyung dan nyaris KO-nya sang raksasa Telkom Indonesia akibat terlalu percaya diri pada strategi "Speedy dan PSTN". Manajemen egois akan layanan telpon kabel tembaga dan internet berkecepatan rendah yang didukung oleh faktor penguasaan pasar saat itu. Sampoerna Telecom, Esia tidak berkutik menghadapi Telkom, semakin meningkatkan keegoisan korporasi.
Tetapi gempuran Kabelvison yang berevolusi menjadi LinkNet, masuknya teknologi internet dan TV nirkabel melalui jaringan WCDMA, LTE cukup memukul mundur revenue Telkom. Akan tetapi sang "Goliath" mampu mengubur ego dengan kembalinya menginovasikan layanan Speedy menjadi Indihome dengan jargon "triple-quad maupun lima play-nya". 
Perseroan berinovasi ulang dengan investasi penggantian kabel tembaga dengan serat optik, mendukung program nasional Palapa Ring, dan meluncurkan kembali satelit Telkom-IV dengan transponder wide range.
Sang Raksasa kembali tegak memimpin era teknologi jaman konseptual.

Metodologi Lasting Lean dan solusi strategis Sun Tzu berikut akan meningkatkan inovasi value, meminimalkan resiko, mengoptimalkan resource, memaksimalkan revenue melalui penciptaan berbagai stream bisnis secara kreatif yang fleksibel dan adaptif:

1. Value Generator
Merupakan fase pertama yang bertujuan meminimalkan resiko bisnis akibat inovasi, desain produk, dan proses bisnis yang tidak memadahi. Validasi pasar dan proses pengujian untuk memastikan diterimanya segala tawaran produk dan jasa kita dipasar, sebelum mulai produksi dan memasarkan dalam skala lebih besar.

2. Value Deconstruction
Proses inti untuk menguraikan value kedalam aktifitas dan resource yang menghasilkan dokumentasi kanvas pencatat alur bisnis atau Work Flow Map (WorM).
Fase ini mengurai kembali konsep produk dan jasa yang telah diuji pada tahapan sebelumnya untuk menemukan atau mencatat segala resource dan aktifitas pembangunnya. Manajemen atau pemilik usaha harus mampu memahami kekomplekan proses bisnis seutuhnya, karena kemampuan memahami cure businessini sangat menentukan kesuksesan sebuah inovasi produk atau jasa.

3. Value Conversion
Merupakan proses konversi aktifitas dan resource kedalam ukuran yang benilai sebagai dasar proses evaluasi, pembelajaran dan pengambilan keputusan dimasa depan.

 

Studi kasus Psy the Gangnam style: manajemen mampu menggabungkan semua fase value dengan baik. Mereka menganalisa dan memutuskan bahwa kesuksesan atau revenue adalah jumlah fans (target utama), tidak khawatir akan adanya aktifitas download klip dari portal video sharing. 
Manajemen tidak perlu mengeluarkan resource tinggi untuk pemasaran, cukup memanfaatkan kekuatan fans. Meskipun mereka tidak mendapatkan royalti dari penjualan album (pada awalnya) akan tetapi dengan meledaknya jumlah viewer/ penonton maka revenue pendapatan iklan dari media video sharing sangat besar. 
Hasil akhir: finansial sukses, kepopuleran produk didapatkan sehingga memudahkan manajemen meluncurkan produk dimasa depan.

Dengan semakin mudah didapatkannya buku2 berkualitas yang ditulis oleh para inovator era koseptual, semoga bisa merangsang generasi muda bangsa menajamkan teori konvensional dengan perubahan adaptif dalam menyemai mimpi kewirausahaan, berani melangkah dan pada akhirnya menjadi tuan dinegeri sendiri. #AreYouWatcherOrPlayer?

Konsep baru ini juga sudah mulai diadaptasi menjadi kurikulum baru sekolah dan perkuliahan, menjadi diskusi hangat para pelaku industri kreatif dan asosiasinya. - ID

 

Sumber:

https://idu1.livejournal.com/?skip=15


TAG Marketing

Dipost Oleh Super Administrator

Super Administrator Himapas